Ketahanan Pangan Sudah Terbukti Gagal Mengatasi Krisis Pangan Global, Saatnya Kembali Ke Kedaulatan Pangan

- Jumat, 5 Agustus 2022 | 11:00 WIB
Illustrasi ekspor pangan (pixabay)
Illustrasi ekspor pangan (pixabay)


Bisnisbandung.com - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terkait Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2022 sebesar 104,25 atau turun 1,61 persen dibanding NTP bulan sebelumnya.

Penurunan NTP tersebut dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (lt) turun sebesar 1,04 persen sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) mengalami kenaikan sebesar 0,58 persen.

Kenaikan NTP Juli 2022 juga dipengaruhi oleh turunnya dua subsektor NTP, yakni Tanaman Pangan (0,62 persen); dan Tanaman Perkebunan Rakyat (6,63 persen).

Baca Juga: Cegah Stagflasi, TPID Jabar pun Rumuskan Pertukaran Data Antarwilayah Hingga Investasi di Sektor Pangan

Sementara 3 subsektor lainnya mengalami kenaikan, yakni Hortikultura (4,91 persen); Peternakan (0,34 persen). dan Perikanan (0,18 persen).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Departemen Kajian Strategis Nasional Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI), Mujahid Widian, menyebutkan penurunan NTP nasional tersebut dipengaruhi turunnya NTP sektor perkebunan yang selama ini menjadi penopang utama NTP nasional.

“Kendati sempat naik di bulan Juni, tapi secara keseluruhan kita lihat tren NTP Perkebunan terus turun. Hal ini selaras dengan laporan anggota SPI di beberapa wilayah yang menyebutkan harga Tandan Buah Segar (TBS) masih rendah,” kata Mujahid

“Kita bisa lihat di Riau, yang merupakan sentra dari tanaman perkebunan khususnya sawit. Mengacu pada laporan BPS, Riau menjadi provinsi dengan tingkat penurunan NTP terbesar"

"Laporan anggota SPI di Kabupaten Kuantan Singigi dan Kampar, harga TBS bervariasi di rentang Rp1.025 sampai Rp1.475/kg. Begitu juga di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Asahan, harga TBS di tingkat petani masih di kisaran Rp1.100 – Rp1.500/kg,” tambahnya.

Halaman:

Editor: Us Tiarsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X