SPI: Kepentingan Dalam Negeri, Kepentingan Rakyat Terhadap Pangan Selayaknya Menjadi Prioritas Utama

- Minggu, 15 Mei 2022 | 07:00 WIB
Ilustrasi NTP April 2022, NTP Nasional Turun, Pertama Kali dalam 9 Bulan Terakhir (Pixabay)
Ilustrasi NTP April 2022, NTP Nasional Turun, Pertama Kali dalam 9 Bulan Terakhir (Pixabay)

Bisnis Bandung - Nilai Tukar Petani (NTP) nasional bulan April 2022 sebesar 108,46 atau turun 0,76 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Mengacu pada data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan NTP April 2022 disebabkan Indeks Harga yang diterima Petani (lt) naik sebesar 0,06 persen lebih rendah dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) sebesar 0,83 persen.

Penurunan NTP April 2022 juga dipengaruhi oleh turunnya NTP di dua subsektor, yakni sub sektor tanaman pangan (1,90 persen) dan sub sektor tanaman hortikultura (3,15 persen).

Sedangkan sub sektor lainnya mengalami kenaikan, seperti sub sektor tanaman perkebunan rakyat (0,54 persen); sub sektor peternakan (1,44 persen); dan perikanan (0,46 persen).

Baca Juga: Pejabat, Menteri, Jenderal Terlibat Kasus Korupsi Impor Minyak Goreng! Jaksa Agung Tak Takut Backing-Backingan

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia, Agus Ruli, mengatakan penurunan NTP nasional merupakan yang pertama dalam kurun waktu 9 bulan terakhir.

"Penurunan ini disebabkan masing-masing sub sektor penyusun NTP mengalami gejolak. Untuk sub sektor tanaman pangan, khususnya kelompok padi, tren negatifnya terus berlanjut"

Laporan anggota SPI di beberapa wilayah seperti Banyuasin, Pati, dan Tuban, terjadi penurunan harga gabah di tingkat petani,  kata Agus Ruli 

"Hal tersebut juga disebutkan oleh BPS. Dari observasi yang mereka lakukan, ditemukan kasus harga di bawah HPP di tingkat petani sebanyak 599 kasus (27,60 persen) dan di tingkat penggilingan sebanyak 836 kasus (38,53 persen)", lanjutnya.

Sementara itu untuk subsektor tanaman hortikultura, besarnya persentase penurunan disinyalir akibat dari permintaan yang tidak stabil.

Halaman:

Editor: Yayu Rahayu

Sumber: spi.or.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X