Presiden Joko Widodo Hadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7, Fokuskan Pangan dan Pupuk

- Jumat, 1 Juli 2022 | 17:00 WIB
Presiden Jokowi saat menghadiri KTT G7 di Elmau, Jerman ( Instagram @jokowi)
Presiden Jokowi saat menghadiri KTT G7 di Elmau, Jerman ( Instagram @jokowi)

Karena Indonesia masih memerlukan investasi antara USD25 miliar hingga USD30 miliar, dan adanya kesempatan ini hendaknya bisa dimanfaatkan. Tuturnya.

Selain itu Presiden Joko Widodo juga mengatakan bahwa di Indonesia sedang mengembangkan ekosistem mobil listrik dan baterai mobil berbasis lithium-nikel, dengan adanya pertemuan ini Presiden RI itu berharap agar Negara-negara G7 & dan G20 hendaknya bisa memberikan dukungan investasi.

Dalam sesi ke dua Presiden Joko Widodo menuturkan seruannya kepada Negara-negara G7 dan G20 agar senantiasa bersama-sama mengentaskan krisis pangan yang saat ini mengancam rakyat terutama Negara-negara berkembang yang terancam ke jurang kelaparan serta kemiskinan ekstrim.

“Ada 323 juta orang pada tahun 2022, menurut World Food Programme, terancam menghadapi kerawanan pangan akut. G7 dan G20 ikut memikul tanggung jawab besar untuk mengatasi krisis pangan ini. Mari kita tunaikan tanggung jawab kita itu sekarang dan mulai saat ini. Kita harus segera bertindak cepat dan mencari solusi konkret. Produksi pangan harus ditingkatkan. Rantai pasok pangan dan pupuk global harus kembali normal,” Ujar Presiden Joko Widodo didepan Forum besar.

Menurut Presiden Joko Widodo Pangan adalah Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling dasar, para perempuan dan anak-anak dari keluarga miskin dipastikan yang paling menderita ditengah situasi kekurangan pangan ini.

Baca Juga: Jokowi Bertolak Ke Washington Hadiri KTT Khusus Asean - AS

Maka dari itu Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menegaskan pentingnya dukungan dari Negara-negara G7 dan G20 untuk mereintegrasikan ekspor gandum Ukraina serta ekspor komoditas pangan dan pupuk Rusia dalam rantai pasok global.

Akibat perseteruan 2 negara yang tak kunjung usai telah menimbulkan ancaman krisis pangan global yang begitu serius. Kedua Negara tersebut merupakan eksportir 23 persen gandum kepasar dunia, sekaligus pupuk dan bahan baku pupuk.

Karena tanpa ketersediaan pupuk yang mencukupi mengakibatkan produksi pangan dunia akan terus merosot.

Situasi yang begitu rawan ini harus sesegera mungkin di selesaikan.

Halaman:

Editor: Us Tiarsa

Sumber: Indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

SPI Geruduk Kantor Kementan RI Unjuk Rasa Tolak Benih GMO

Selasa, 27 September 2022 | 14:00 WIB

OJK Terus Dorong Pengembangan UMKM Jabar

Sabtu, 24 September 2022 | 15:46 WIB
X