Ditangkap Satgas Marinir Di Sebatik Kaltara, WNA Diduga Memata-matai Obyek Vital

- Kamis, 28 Juli 2022 | 14:00 WIB
Illustrasi Penjara untuk WNA (unsplash)
Illustrasi Penjara untuk WNA (unsplash)

Bisnisbandung.com - Sebanyak tiga orang asing yang diduga mata-mata (intelejen) ditangkap oleh Satuan Tugas Marinir Ambalat XXVIII TNI Angkatan Laut, di wilayah Sebatik Utara Kalimantan Utara perbatasan Indonesia- Malaysia.

Tiga WNA yang diduga menjadi spionase di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia, kini ditahan pihak keimigrasian. Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Tempat Pemeriksaan Imigrasi Washington Saut Dompak menyebut WNA tersebut adalah BJ warga negara China serta dua warga Malaysia, HJK dan LBS.

Menurut Washington, ketiganya sudah diamankan di Kantor Imigrasi Kelas II TPI Nunukan selama 30 hari ke depan. Lebih lanjut dijelaskan, ketiga WNA tersebut masuk melalui Pos Lintas Batas Internasional Tunon Taka, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara pada 20 Juli bersama seorang WNI.

Baca Juga: Ikhsan : Terlihat Kurang Berdaulat Pemerintah Indonesia Masih Perbolehkan WNA Cina Datang

Diketahui warga negara Indonesia (WNI), YBY, merupakan pimpinan perusahaan bidang konstruksi di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. YBY mengajak ketiga orang itu untuk melihat pembangunan jembatan Tawau-Sebatik, Malaysia.

"YBY ingin meninjau kondisi geografis Sebatik, Kabupaten Nunukan dalam rangka pembangunan jembatan dan mengajak WN RRT berinisial BJ serta dua orang WN Malaysia,” ucap Washington dalam keterangan resmi yang diperoleh awak media, Minggu (24/7/2022).

Lokasi yang dikunjungi empat orang tersebut merupakan objek vital di lingkungan TNI Angkatan Laut (AL). Karena itu, Marinir yang berjaga di lokasi tersebut memeriksa mereka . Setelah itu, mereka diserahkan ke Kantor Imigrasi Kelas II Nunukan.

"Dari hasil pemeriksaan, mereka tidak mengetahui bahwa salah satu lokasi tempat mereka berfoto adalah objek vital, yaitu pos perbatasan dan markas marinir," ujar Washington. WNA tersebut diduga melanggar Pasal 122 huruf a UU Keimigrasian

Mereka menyalahgunakan atau melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan izin tinggal yang diberikan. “Terkait dugaan tindak pidana keimigrasian dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan pidana denda paling paling banyak Rp 500 juta,” jelas Washington.

Halaman:

Editor: Us Tiarsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X