Penghasilan dan Pengeluaran Tidak Seimbang? Ini Cara Mengatur Keuangan yang Sehat

- Rabu, 6 April 2022 | 18:05 WIB
Keuangan, penghasilan, sehat, dan biaya hidup. (Pixabay)
Keuangan, penghasilan, sehat, dan biaya hidup. (Pixabay)

Bisnis Bandung - Setiap kali kita mempunyai kebutuhan dan keinginan terkadang selalu terkendala dengan masalah keuangan.

Apalagi jika memasuki akhir bulan, rasanya butuh perjuangan untuk mengatur sisa budget.

Dan pada akhirnya kita bingung apakah karena pemasukan yang sedikit atau karena pengeluaran kita yang terlalu banyak.

Baca Juga: Teknik Dasar Public Speaking Agar Tidak Gugup

Terkadang gaya hidup yang berlebihan dengan ketidakseimbangan pendapatan membuat hidup kita menjadi pay check to pay check

atau gaji yang kita terima habis untuk pengeluaran  sebulan sehingga kita tidak bisa menyisihkan uang untuk menabung.

Tentunya hasil kerja keras kita selama ini tidak ingin habis begitu saja.

Baca Juga: Sahur Ramadhan Bernutrisi

Harus disiapkan untuk masa depan atau bahkan masa tua nanti.

Terlebih disaat kita masih berada di usia produktif, diupayakan untuk lebih pintar dan sehat dalam mengatur keuangan.

Naahh berikut ini cara mengatur keuangan yang sehat:

1. Tekad dan Perencanaan atau Planning

Perlu kita lakukan diawal adalah tekad yang kuat dan konsistensi dalam menjalani cash flow atau perputaran uang yang masuk dan keluar dalam keuangan sehari-hari.

Sehingga kedisiplinan akan tercipta dan sudah menjadi suatu kebiasaan.

Saat kita menerima gaji pastikan kita mengetahui apa saja kebutuhan kita, lakukan perencanaan atau planning jangka pendek hingga jangka panjang.

Biasanya perencanaan itu meliputi pos keuangan yang akan kita gunakan dan kita simpan sebagai tabungan atau investasi.

Untuk itu kita harus mengetahui dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Baca Juga: Jusuf Hamka Ajarkan Bagaimana Memaknai Kekayaan dan Kesederhanaan

2. Kebutuhan hal yang tidak bisa kita tunda.

Nah berbeda dengan keinginan yang biasanya belum tentu kita butuhkan saat ini dan masih bisa kita tunda.

Baca Juga: Belajar Memaknai Intoleransi, Popularitas, Healing Dari Pemikiran Habib Husein Jafar

3. Metode 50-20-30 Elizabeth Warren

Setelah adanya perencanaan kita akan mengetahui biaya hidup atau Living cost secara keseluruhan dan biaya yang harus di simpang atau saving.

Terapkan metode dari Pakar keuangan Elizabeth Warren (Dikutip Bisnis Bandung dari website resmi Kementrian Keuangan)

Living cost atau biaya hidup maksimalkan dalam 50 % gaji kita. Seperti  untuk makanan, pakaian, cicilan rumah, tagihan bulanan dan kebutuhan pokok lainnya.

Baca Juga: Tanaman Sorgum Kaya Manfaat, Mencegah Kanker, Kolesterol, dan Menguatkan Jantung

4. 20% untuk investasi atau tabungan.

Jangan lupa bahwa masa depan atau masa tua perlu persiapan.

Untuk itu sekecil apapun kita perlu mempersiapkan dengan cara menabung atau berinvestasi.

Dana tersebut bisa kita pakai sebagai dana darurat jika adalah hal-hal mendesak atau urgent.

Baca Juga: Mau Tahu, Bagaimana Cara Mengatasi Bibir Kering Saat Puasa ?

30% bisa kita gunakan untuk gaya hidup atau life style hingga keinginan-keinginan.

Dalam penerapan sehari-hari yang dianggap sepele adalah ketika keinginan menjadi prioritas utama.

Untuk itu setelah penerapan metode ini, dalam membeli barang atau liburan yang kita inginkan,  sisihkan sebesar 30% dari gaji.

5. Manfaatkan Usia Produktif

Dimasa produktif tentunya kita berkesempatan mendapatkan pendapat yang lebih banyak.

jika kita mampu memanfaatkannya dengan bekerja keras dan kreatif dalam bekerja.

Namun biasanya dimasa produktif, kita memiliki ego lebih tinggi.

Sehingga yang menjadi tantangan adalah ketika berpenghasilan besar, kita mampu hidup sederhana dan pintar mengatur keuangan.

Disaat mempunyai suatu income atau penghasilan yang tetap jangan dulu merasa aman.

Baca Juga: Mudik Naik Kereta Api? Simak Aturan dan Syarat Terbarunya

6. Persiapkan Dana Darurat

Sering terlupakan dengan persiapan dana darurat karena berpikir bahwa semua akan baik-baik saja.

Nyatanya dalam kehidupan, kita akan bertemu dengan kondisi yang sangat mendesak.

Seperti contohnya saat dalam kondisi sakit mengharuskan perawatan medis, sementara asurasi kesehatan tidak bisa membayar semua biaya rumah sakit.

Dana Darurat bisa kita pergunakan untuk hal tersebut.

Baca Juga: Capaian Vaksinasi Booster di KBB Masih di Angka 8 Persen

Contoh lainnya adalah pada saat pandemi.

Tiba-tiba perkerjaan tertunda bahkan ada pekerjaan yang hilang, membuat kita kalang kabut antara kebutuhan dan income atau pendapatan yang tidak ada.

Penyesuaian pun terasa sulit, karena kita belum terbiasa akan keadaan saat ini  dengan gaya hidup sebelumnya.

Halaman:

Editor: Yudhi Prasetyo

Sumber: Kementerian Keuangan RI

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X