Belajar Memaknai Intoleransi, Popularitas, Healing Dari Pemikiran Habib Husein Jafar

- Jumat, 1 April 2022 | 16:10 WIB
Habib Husein Jafar,  intoleransi karena kesalahpahaman, popularitas adalah anomaly terendah dalam hidup (Tangkap layar / Youtube Daniel Mananta)
Habib Husein Jafar, intoleransi karena kesalahpahaman, popularitas adalah anomaly terendah dalam hidup (Tangkap layar / Youtube Daniel Mananta)
 
 
Bisnis Bandung ---  Di chanel yang diberi nama "Daniel Tetangga Kamu" , youtube nya Daniel Mananta, narasumber/tamu nya, Habib Husein Jafar, Pendakwah, mengungkapkan apa latar belakangnya, bagaimana harus bersikap toleran, bagaimana menghindari intolerasi, bagaimana menyikapi popularitas dan bagaimana cara "healing".
 
Habib Husein Jafar mengaku dirinya dibesarkan dilingkungan homogen, tapi karena pemikiran dan hati dididik dalam kegiatan kesana kemari, salah satunya melalui buku, maka membentuk pemikiran yang tidak homogen, tetapi berusaha hetrogen. 
 
Habib Husein Jafar mengaku, dirumahnya banyak sekali buku. Awalnya berinteraksi dengan buku, awalnya interaksi secara fisik sebagai mainan lama-lama mulai membaca sinopsis kemudian membaca buku, karena itu pikiran kita keluar dari pemikiran keseragaman kampung.
 
 
Kemudian kita belajar untuk tidak setuju dan akhirnya setuju untuk tidak setuju. Karena orang yang tidak setuju karena ilmu akan berbeda dengan orang yang tidak setuju karena kebodohan.
 
Outputnya berbeda antara orang yang tidak setuju karena ilmu, outputnya adalah cinta. Sedangkan orang yang tidak setuju tanpa ilmu maka outputnya adalah cacian, makian dan semuanya yang hitam.
 
Karena itu dalam islam debat atas dasar ilmu diperbolehkan, karena itu dalam Alquran memerintahkan berdebat dalam beberapa hal
 
Berdebatlah dengan cara yang terbaik, karena berdebat yang didasari nafsu bermodal kesalahan dan hawa nafsu disebut debat kusir.
 
Menurut Habib Husein Jafar, toleransi itu dihati dan pikiran seseorang. Sebagai seorang yang beriman dan beragama punya loyalitas kepada agama. Artinya meskipun kita memiliki hubungan atau relasi, tetap saja toleransi harus ada batasnya secara hukum. Misalnya saja ketika bersalaman dengan lawan jenis,  atau ketika mengucapkan perayaan Natal. 
 
Intoleransi bisa terjadi karena salah faham,  kesalaham dalam memahami agama, atau bisa jadi dari sumber bacaan yang salah, sumber bacaan yang diproduksi oleh kekuatan pilitik yang sengaja membuat pemahaman salah.
 
 
Menurut Habib Husein Jafar, jika sumber kesalahpahaman adalah pemikiran, maka tingal diperbaiki pemahamannya.
 
Tetapi jika sumber kesalahpahamannya egois, nafsu atau kebencian kepada seseorang maka akan melihat obyeknya dalam kacamata benci tidak bisa diubah. Jika intoleransi sumbernya kebencian itu susah, tidak bilang mustahil tetapi susah.
 
 
Popularitas Sebagai Titik Terendah
 
Habib Husein Jafar mengklaim popularitas sebagai titik terendah. Alasannya yang pertama secara algoritma dirinya tidak dididik untuk menjadi orang populer dan tidak ada niat.
 
Alasan yang kedua, popularitas itu tanggung jawabnya besar. Mix itu fitnah, kamera berat, sorot lampu itu bahaya.
 
Popularitas itu membuat berada pada posisi anomaly yang tinggi, membuat bingung,  pusing, takut dan kekacauan berfikir. 
 
Maknai popularitas dengan hidup mewakafkan kepada Tuhan, menyerahkan diri kepada Tuhan.
 
Popularitas itu soal kesempatan lebih besar untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan.
 
 
Peribadatan Harus Mengandung Nilai Seni. 
 
Menurut Habib Husein Jafar,  pola peribadatan harus mengandung nilai seni dan keindahan. Tuhan itu tidak mau didikte, inginya dirayu dalam doa, dan dalam doa dilarang mendikte.
 
Jangan perhitungan dengan Tuhan, karena  rahmat Tuhan itu harus dengan amalan yang indah sehingga mampu mengetuk pintu rahmatnya.
 
Nabi Muhamad SAW pernah bersabda, bahwa sorga itu bukan karena amal, tetapi karena rahmat dari Tuhan.
 
 
" Healing" intinya Kepada Dalam Diri
 
Menurut Habib Husein Jafar, manusia seringkali "healing" ketempat keramaian, padahal dalam keramaian itu tidak ada Tuhan. Dan itu sia-sia, tidak akan pernah healing,  dan itu healing hanya tipuan belaka. 
 
Healing itu intinya kepada dalam diri, bukan keluar diri, ketika dalam tidak selesai maka kita akan mencoba memitigasi dengan hal hal lain diluar sana, dan tidak akan pernah selesai karena didalam tidak selesai. 
 
Tanpa kekuatan Tuhan tidak akan pernah bisa, Manusia bisa mengatur berbagai hal,  tetapi tidak akan bisa mengatur yang tidak terduga.

Editor: Us Tiarsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Episode 6 She-Hulk, ini villain utama yang akan dihadapi

Senin, 26 September 2022 | 17:00 WIB

3 Cara Paling Mudah Mengatasi Patah Hati

Jumat, 16 September 2022 | 10:00 WIB

3 Tips Sehat Dalam Bermain Sosial Media

Kamis, 15 September 2022 | 12:00 WIB

5 Cara Memperoleh Penghasilan dari Internet

Sabtu, 10 September 2022 | 12:00 WIB
X