Penganut Islam Dan Kristen Ortodok Di Ethopia Terlihat Dari Kaum Perempuannya

- Kamis, 10 Maret 2022 | 15:06 WIB
Penganut Islam Dan Kristen Ortodok Di Ethopia Terlihat Dari Kaum Perempuannya
Penganut Islam Dan Kristen Ortodok Di Ethopia Terlihat Dari Kaum Perempuannya

Sebelum menginjakan kaki di Ethiopia, saya membayangkan negara dengan ibukota Addis Ababa ini merupakan negara miskin dengan suhu udara panas dan gersang, sempat muncuatkan tragedi rakyatnya kelaparan yang menyita perhatian masyarakat dunia. Namun ternyata sangkaan saya mengenai keadaan Ethiopia meleset.

Sejak saya turun di Bandara Addis Ababa , kota yang juga sebagai ibukota Uni Afrika  ini udaranya sejuk , bersuhu udaranya antara 17 – 20 derajat celsius. Addis Ababa berada pada ketinggian 2300 diatas permukaan laut (dpl) .Selain dataran tinggi, di  Ethiopia terdapat dataran terendah di dunia. Sebagai negara berkembang,  umumnya penduduk Ethiopia   merupakan petani kopi dan bunga.

Baca Juga: Ethiopia Sebuah Negara Daratan Sulit Jika Ingin Mengkonsumsi Ikan Laut

Dua produk pertanian tersebut menjadi komoditas ekspor ke Eropa dan Arab , khusus produk bunga mawar kualitas unggulan diekspor sampai ke Jepang dan negara Asia.  Secara geografis Ethiopia berbatasan dengan Kenya dan Somalia, mayoritas penduduknya beragama Islam dan Kristen Ortodok yang hidup rukun berdampingan. Yang membedakan antara orang Muslim dan Kristen Ortodok terlihat dari kaum perempuannya.

 Perempuan Kristen sehari-harinya hanya menggunakan kerudung putih , sedangkan perempuan muslim kerudung (hijab) yang digunakannya aneka warna ,  tidak hanya menggunakan satu warna saja. Uniknya lagi antara yang beragama Islam dan Kristen Ortodok , yakni dalam mengkonsumsi daging . Walau gerai pedagang daging  berdampingan , pemeluk agama Islam tidak akan membeli daging di gerai pedagang daging untuk pemeluk agama Kristen dan sebaliknya pemeluk agama Kristen tidak akan membeli daging sapi di gerai pedagang daging untuk orang Islam .

Baca Juga: Pemprov Jabar Kukuhkan 57 Duta Bela Negara

Makanan pokok orang Ethiopia berupa roti tipis bernama Inzera hasil permentasi dari tepung Tef , sedangkan minuman tradisionalnya  populer disebut Tej yang berbahan baku madu. Menu tradisional lainnya yang dikonsumsi warga berupa sajian daging mentah giling  dengan campuran serbuk cabai (Babare) yang disajikan hanya dalam waktu tertentu . Hal lain yang unik di Ethopia adalah penentuan awal tahun atau tahun baru pada kalender , bagi mereka , tahun baru jatuh pada tanggal 11 September . Sedangkan untuk tahun penghitungannya berbeda delapan tahun, misalnya saat ini tahun 2020 ,  dalam  perhitungan mereka baru tahun 2018 . Sama halnya dalam penghitungan waktu (jam) , walau jarum jam sudah menunjukan pukul 12.00 siang  , namun mereka tetap pada pendiriannya bahwa waktu masih  pukul 04.00 (subuh) , walau sinar matahari sudah mencorong. Hal lain yang menarik adalah di Kota Harar, penduduknya akrab dengan binatang buas bernama Hyna. Binatang yang menyerupai srigala ini  hidup berkelompok yang mampu melumpuhkan binatang buas sekelas Singa, namun kepada warga Kota Harar  sikap buasnya Hyna bisa menjadi jinak . Kenapa ?  Konon karena  penduduk Kota Harar , secara turun temurun biasa memberi makanan berupa daging untuk Hyna, hingga binatang buas ini mengetahui sang majikan pemberi makan.  Diluar majikannya , Hyna akan menyeringai  dengan gigi tajam  siap menerkam jika ada yang mendekat.

Baca Juga: Membuka Keran Dagang, Indonesia- Afrika

Mengenai warga negara Indonesia yang bermukim di Ethiopia , jumlahnya kurang lebih sekitar 150 orang. Umumnya mereka bekerja  sebagai karyawan pabrik tekstil . Di antara warga negara Indonesia di Ethiopia , saya berkenalan salah satunya dengan Kang Taryat Suratman asal Kota Ciamis Jawa Barat yang sudah lebih dari 11 tahun bekerja di sebuah perusahaan sabun dengan jabatan General Manajer PT. Sinar Ancol , perusahaan milik warga Ethiopia. Oleh Kang Taryat , saya sering dijamu makanan khas Priangan , tapi bukan makanan berbahan  ikan laut seperti di Pangandaran ( sekarang Kab. angandaran), karena di Ethiopia sulit untuk mendapatkan ikan laut . ”Ethiopia mah jauh ka laut ,” tutur Kang Taryat menjelaskan kepada saya mengenai sulitnya ikan laut. Ikan yang banyak dikonsumsi di Ethopia , umumnya ikan tawar, seperti ikan sejenis mujair. (Sekilas catatan Akbar dari Ethopia) ***  

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Siapakah Penghuni Pertama Ibu Kota Nusantara (IKN)?

Jumat, 2 Desember 2022 | 21:00 WIB

Ingin Hemat? Saatnya Beralih Ke Motor Listrik

Senin, 28 November 2022 | 18:00 WIB

IA-ITB Tanggap Darurat Bencana gempa Cianjur

Sabtu, 26 November 2022 | 21:40 WIB

Meningkatnya Industri Manufaktur Indonesia

Sabtu, 26 November 2022 | 12:00 WIB
X