Presiden Jokowi : Tidak Semua Produk Nasional Harus Memiliki Standar Nasional Indonesia

- Senin, 1 Agustus 2022 | 14:00 WIB
Helm SNI (Standar Nasional Indonesia) (Instagram @onshop888)
Helm SNI (Standar Nasional Indonesia) (Instagram @onshop888)

Bisnibandung.com - Presiden Ri, Joko Widodo mengatakan di Jakarta, hanya produk yang melindungi manusia dari bahaya atau produk yang membahayakan yang harus memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).

Yang dimaksud barang yang melindungi manusia dari bahaya, misalnya helm. Sedangangkan barang yang berbahaya, misalnya kabel. Itu harus memiliki SNI. Produk lain,

Ketentuan semua produk nasional harus memiliki SNI dikeluarkan pemerintah tahun 1995. Presiden (kala itu Soeharto) membentuk Badan Standardisasi Nasional. Lembaga itulah yang bertanggung jawab atas penerapan SNI pada semua produk nasional.

Baca Juga: SNI: Harga Rajungan Terjun Bebas, Nelayan Memilih Berhenti Melaut Daripada Berhutang

Diketahui, SNI dalam penerapannya sesuai dengan WTO Code of the Good Prestice. Hal itu dimaksudkan, semua produk nasional mampu bersaing di pasar internasional. Diharapkan pula tumbuh kepercayaan masyarakat atas kualitas produk ber-NSI.

SNI juga dimaksudkan, arus perdagangan makin lancar, melindungi kepentingan umum, dan
mengkoordinasikan kegiatan bidang standardisasi produk nasional. Pada praktiknya, ketentuan penerapan SNI itu sedikit menyusahkan perusahaan kecil dan menengah.

Banyak industri rakyat yang memproduksi berbagaI keperluan masyarakat dan tidak berorientasi ekspor, beranggapan, SNI itu sangat merepotkan. Belum lagi adanya.
dana yang harus dikeluarkan, paling tidak pengurusannya butuh ongkos.

Sekarang, pemerintah membebaskan berbagai produk lokal dari kewajiban memiliki label SNI. Produk UMKM seperti aneka kuliner, produk bahan bangunan lokal seperti batu bata,genting tanah liat lokal, alat rumah tangga lokal tradisional, dan sebagainya.

Jangankan NSI yang membutuhkan alur birokrasi yang tidak terlalu sederhana, untuk mendapatkan sertifikat dan label ”halal” saja masih belum dipahami masyarakat luas.
Masih amat sedikit produk kuliner dan obat-obatan yang belum berlabelkan ”halal”.

Halaman:

Editor: Us Tiarsa

Tags

Terkini

Menelusuri Jejak Leluhur dari Suku Baduy

Kamis, 27 Oktober 2022 | 19:15 WIB

Cek Nilai luhur Dibalik Merdunya Suara Angklung

Kamis, 27 Oktober 2022 | 16:30 WIB

Prabu Siliwangi, Tokoh Kebanggaan Rakyat Jawa Barat

Kamis, 27 Oktober 2022 | 11:30 WIB
X