Rekayasa Teknologi Daging Untuk Konsumsi

- Kamis, 7 April 2022 | 11:51 WIB
Ilustrasi daging hasil rekayasa (Pixabay)
Ilustrasi daging hasil rekayasa (Pixabay)

Bisnis Bandung - Mahalnya harga daging di Bulan Ramadan dan menjelang lebaran, sepertinya sudah biasa terjadi di pasar-pasar. Namun, kini ada rekayasa teknologi daging yang dianggap dapat bersaing.

Pebisnis daging di Indonesia biasanya harus impor daging sapi atau kerbau. Dengan adanya rekayasa teknologi daging di laboratorium, diharapkan menjadi solusi di masyarakat.

Cara konvensional yang mengharuskan melakukan penyembelihan dinilai salah satu penghambat. Apabila menggunakan teknologi rekayasa daging, sapi tidak perlu disembelih.

Industri makanan yang menciptakan daging hasil rekayasa laboratorium. Kini mulai dilirik negara-negara maju.

Inovasi daging rekayasa ini semakin diminati karena dinilai lebih ramah lingkungan. Daging laboratorium memang baru populer di beberapa negara saja.

Inovatornya adalah Profesor Mark Post, akademisi dari Maastricht University, Belanda. Ia bersama beberapa ilmuwan lainnya merancang burger berbahan daging rekayasa laboratorium pertama di dunia.

Baca Juga: Tren Adaptasi Bisnis di Tahun 2022

Dilansir dari berbagai sumber, Profesor Mark dan timnya sudah mulai membudidayakan daging rekayasa lab untuk burger sejak Mei 2013.

Cara produksinya yaitu dengan mengambil sel induk seekor sapi, lalu menumbuhkannya menjadi potongan-potongan otot, dan digabungkan menjadi burger.

Dalam satu burger terdapat puluhan jaringan otot kultur dengan berat 140 gram.

Halaman:

Editor: Yayu Rahayu

Sumber: Washington Post

Tags

Artikel Terkait

Terkini

POCO Dorong Adopsi 5G di Indonesia

Selasa, 31 Mei 2022 | 12:38 WIB

Rekayasa Teknologi Daging Untuk Konsumsi

Kamis, 7 April 2022 | 11:51 WIB

Tren Adaptasi Bisnis di Tahun 2022

Jumat, 11 Maret 2022 | 15:17 WIB

Cara Pakai QR Code untuk Bagikan Profil Instagram

Rabu, 23 Februari 2022 | 12:15 WIB
X