Pengamat : "Pendapatan Negara dari Sektor Migas Turun Tajam Akibat Anjloknya Harga Minyak Mentah di Pasar Dunia"

photo author
Administrator, Bisnis Bandung
- Selasa, 31 Agustus 2021 | 10:34 WIB
Pengamat :
Pengamat :

Bisnis Bandung, (BB) -- Pengamat Perdagangan Internasional FISIP Universitas Widyatama, Denny Saputera S.E., M.M mengemukakan, kontribusi terbesar pada Export Non Migas negara Indonesia yaitu pada Sektor Industri dengan komoditas unggulan teratas dalam sektor industi yaitu pada minyak kelapa sawit (CPO) berkontribusi (13,75% 2018, 12,22% 2019 dan 2020 14,07%),  Produksi CPO Indonesia menjadi yang terbesar di dunia. Sebelumnya tahun 2017 dipegang oleh negara tetangga (Malaysia).

Provinsi terbesar dalam produksi CPO yaitu Riau dengan rata-rata (2018-2019) (20%), Kalimantan Tengah (15%), Sumatera Utama (14%), Kalimantan Barat (10%) dan Sumatera Selatan (9%). Peningkatan luas dan produksi tahun 2018-2020 dibanding tahun-tahun sebelumnya disebabkan peningkatan cakupan administratur perusahaan kelapa sawit yang di kuasai oleh perkebunan swasta (55%), perkebuanan rakyat (40%) dan 5% oleh perkebunan besar negara.

Selanjutnya pada komoditas besi baja berkontribusi 4,95% tahun 2018, 6,21% 2019, dan 2020 8,60%.  Komoditas besi baja pada tahun 2020 mencapai US$ 11.285,8 juta, atau mengalami peningkatan 42,64 % dibandingkan tahun sebelumnya. Komoditas ini sebagian besar diekspor ke Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan, masing-masing $ US 7.549,3 juta, $ US 1.030,4 juta dan $ US 556,2 juta. Provinsi pelabuhan muat untuk ekspor komoditas ini sebagian besar berasal dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara, masing-masing $ US 6.407,8 juta, $ US 2.154,8 juta dan $ US 976,8 juta.

2019, dan 4,46% tahun 2020. Pada tahun 2020 ekspor komoditas pakaian jadi (konveksi) mencapai $ US 5.856,5 juta. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ekspor komoditas pakaian jadi (konveksi) mengalami penurunan 17,18%. Komoditas ini sebagian besar diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman, masing-masing $ US 2.944,8 juta, $ US 606,0 juta dan $ US 314,7 juta. Komoditas ini sebagian besar diekspor dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Kepulauan Riau yaitu masing-masing $ US 4.102,7 juta, $ US 1.526,4 juta, dan $ US 110,4 juta, paparnya kepada Bisnis Bandung (BB), di Bandung.

Denny Saputera S.E., M.M mengimbuhkan, komoditas unggulan teratas dalam sektor pertanian yaitu kopi berkontribusi 23,52% 2018, 24,15% 2019, dan 19,64% tahun 2020 nilainya mencapai $ US 809,2 juta. Ekspor kopi alam Indonesia menjangkau lima benua yaitu Asia, Afrika, Australia, Amerika, dan Eropa dengan pangsa utama di Eropa.

Pada tahun 2020,  tiga besar negara pengimpor kopi alam Indonesia adalah Amerika, Malaysia, Itali. Volume ekspor ke Amerika mencapai 58,67 ribu ton atau 16,34% dari total volume ekspor kopi Indonesia de 36,90 ribu ton atau 10,28% dari total volume kopi Indonesia dengan nilai US$ 62,94 juta. Peringkat ketiga adalah Itali, dengan volume ekspor 35,45 ribu ton atau 9,87 % dari total volume ekspor kopi Indonesia dengan nilai US$ 60,35 juta.

Menurut sumber (ICO, 2020) Indonesia sampai tahun 2020 menempati posisi ke -5 dalam pengekspor kopi terbesar di dunia di bawah (Brazil, Vietnam, Colombia, dan Honduras). Produksi kopi terbesar di Indonesia sampai tahun 2020 diwakili oleh provinsi Sumatera Selatan (26%), Lampung (15%), Aceh dan Sumatera Utara masing-masing 10%.

Komoditas unggulan kedua dalam sektor pertanian adalah tanaman obat, aromatik dan  rempah-rempah berkoa, & rempah-rempah obat juga ber 15,01% terhadap total ekspor pertanian. Negara pengimpor utama komoditas ini adalah Iran, Thailand, dan Tiongkok, senilai US$ 112,4 juta (18,17%), US$ 89,9 juta (14,53%) dan US$ 89,0 juta (14,39%).

Tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah diekspor dari provinsi Sumatera Utara 42,79% (117,8 ribu ton), Jambi 19,86% (54,7 ribu ton), dan DKI Jakarta 17,91% (49,3 ribu ton).

Komoditas unggulan ketiga adalah sarang burung, berkontribusi pada devisa negara (8,46% th 2018, 10,07% di 2019 dan 13,11%) secara Nilai FOB (US$ Million) US$ 290,6 juta di 2018 naik 25,22% dengan FOB US$ 363,3juta 2019 naik lagi 48,50% dengan FOB US$ r US$ 540,4 juta. Sarang burung sebagian besar diekspor dari DKI Jakarta sebesar 74,67 persen (980,0 ton), Jawa Timur sebesar 15,97 persen (209,6 ton), dan Sumatera Utara sebesar 8,91 persen (117,0 ton).

Sektor pertambangan adalah salah satu sektor ekonomi yang memegang peranan penting, karena Indonesia memiliki potensi mineral dan energi yang cukup besar. Komoditas unggulan teratas dalam sektor pertambangan yaitu batu bara dengan kontribusi (70,44% di 2018, 76,14% di 2019, dan 73,66% di 2020) secara Nilai FOB (US$ Million) US$ 20.631juta di 2018 turun 8,11% di 2019 dengan total FOB sebesar US$ 18.957juta, kemudian turun kembali kontribusinya di tahun 2020 dengan FOB US$ 14.534juta atau -23,33%.

Pada tahun 2019 negara tujuan utama ekspor batu adalah India yaitu  US$ 4.836,1 juta, Tiongkok US$3 143,0 juta, Jepang sebesar US$ 2.333,1 juta, Malaysia US$1.582,6 juta, dan Filipina US$1.493,4 juta. Selanjutnya pada tahun 2020 negara tujuan ekspor utama batu bara Indonesia adalah India sebesar US$3.391,2 juta, Tiongkok sebesar US$ 2.652,7 juta, Jepang sebesar US$ 1.695,7 juta, Malaysia sebesar US$1.305,7 juta dan Filipina sebesar US$1.225,3 juta. Nilai ekspor ke India, Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan Filipina pada tahun 2020 semuanya mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Komoditas unggulan kedua dalam sektor pertambangan adalah lignit. Lignit disebut juga batu bara muda, berwarna coklat menunjukkan material-material kayu dan unsur tumbuh-tumbuhan lain yang sudah terurai. Jika dikeringkan maka lignit menjadi hancur dan nilai panas lignit rendah, Lignit dipakai untuk pembuatan gas di pabrik gas. Menurut World Coal Association sepuluh negara yang memproduksi lignit adalah (dari peringkat paling sedikit) adalah Jerman, Indonesia, Rusia, Turki, Australia, Amerika Serikat, Yunani, Polandia, Republik Ceko, dan Serbia. Lignit berkontribusi pada devisa negara (11,39% 2018, 11,12% di 2019 dan 9,73% di 2020)

Tiongkok merupakan negara tujuan terbesar ekspor lignit Indonesia sejak delapan tahun terakhir.Lebih dari 90,00% komoditas ini ditujukan ke Tiongkok setiap tahunnya. Tahun 2017 nilai ekspor lignit ke Tiongkok mengalami kenaikan sebesar 56,29% dari US$ 1.534,3 juta pada tahun 2016 menjadi US$2.397,9 juta. Nilai ekspor ke Tiongkok kembali meningkat di tahun 2018 sebesar 29,50% dan mencapai US$3 105,2 juta. Nilai tersebut merupakan ekspor tertinggi komoditas lignit ke Tiongkok pada periode 2013–2020.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X