Ajakan PDIP ke Warga NU Tuai Sorotan, Adi Prayitno Sebut Sekat Politik Semakin Memudar

photo author
Durotul Hikmah, Bisnis Bandung
- Kamis, 16 April 2026 | 18:00 WIB
Adi Prayitno, Analis Politik (Tangkap layar YouTube Adi Prayitno Official)
Adi Prayitno, Analis Politik (Tangkap layar YouTube Adi Prayitno Official)

bisnisbandung.com - Pernyataan politisi senior Said Abdullah yang mengajak warga Nahdlatul Ulama menjadikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai rumah politik menuai perhatian analis politik Adi Prayitno.

Dalam kanal YouTube pribadinya, Adi menilai isu tersebut menarik karena menyentuh dinamika perubahan peta politik berbasis ideologi dan keagamaan di Indonesia.

Adi melihat selama ini PDIP dikenal sebagai partai nasionalis yang tidak memiliki kedekatan kuat dengan basis pemilih Islam, khususnya kalangan Nahdliyin.

Di sisi lain, NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia kerap diasosiasikan dengan partai berbasis Islam seperti Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Persatuan Pembangunan.

Menurutnya, perbedaan ini tidak lepas dari konstruksi sosial lama yang pernah dijelaskan oleh Clifford Geertz melalui konsep tipologi masyarakat Jawa, yakni santri, abangan, dan priyayi.

Dalam konteks tersebut, PDIP sering dianggap dekat dengan kelompok abangan, sementara NU identik dengan santri.

Baca Juga: Kasus Penyiraman Air Keras Berlanjut di Pengadilan Militer, Motif Pelaku Belum Terjawab Tuntas

Namun, Adi menilai ajakan Said Abdullah menjadi menarik karena didasarkan pada dua argumen utama.

Pertama, adanya kesamaan nilai antara PDIP dan NU, khususnya dalam mengusung konsep Islam wasathiyah atau Islam moderat yang inklusif dan ramah terhadap keberagaman.

Kedua, adanya perubahan perilaku pemilih yang kini tidak lagi terikat secara kaku pada identitas ideologis maupun afiliasi keagamaan.

Ia menyoroti bahwa dalam perkembangan politik terkini, basis pemilih NU tidak lagi terpusat pada satu partai tertentu.

Dukungan politik dari kalangan Nahdliyin disebut telah menyebar ke berbagai partai, termasuk partai nasionalis seperti PDIP. Bahkan dalam sejumlah momentum politik, dukungan tersebut dinilai cukup signifikan.

Adi menilai kondisi ini menunjukkan bahwa sekat-sekat ideologis yang dulu dianggap kuat kini semakin mencair.

“Selama ini seakan-akan ada jarak, ada distingsi: PDIP sebagai partai nasionalis, sementara NU sebagai kelompok keagamaan Islam terbesar di Indonesia yang dianggap tidak memiliki irisan tebal,” ucapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Durotul Hikmah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X