Ziarah Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang

- Minggu, 10 April 2022 | 11:05 WIB
makam Cut Nyak Dhien di Gunung Puyuh Sumedang. (Dok. www.jabarprov.go.id)
makam Cut Nyak Dhien di Gunung Puyuh Sumedang. (Dok. www.jabarprov.go.id)

Bisnis Bandung - Di bulan yang penuh berkah ini, kami melakukan perjalanan, menuju sebuah kota kecil di utara kota Bandung, Sumedang itulah tujuan kami. Selepas kawasan pendidikan Jatinangor, perjalanan memasuki kawasan Cadas Pangeran yang legendaris, kawasan ini merupakan gerbang menuju kota Sumedang.

Jarak dari pusat kota Bandung hanya sekitar lima puluh kilometer, bila perjalanan lancar, kota Sumedang bisa di tempuh satu setengah jam, menggunakan kendaraan roda empat. Menjelang siang, kami sampai di pusat kota Sumedang, dari sini kemudi diarahkan menuju daerah gunung Puyuh, kali ini kami akan mengunjungi sebuah makam pahlawan nasional asal Aceh, yaitu Cut Nyak Dhien.

Timbul pertanyaan dalam benak kita, mengapa seorang pejuang asal aceh di makamkan di kota Sumedang. Sejenak kita kembali ke masa lalu, perang aceh meletus pada tanggal 26 maret 1873, perang ini terjadi akibat, pihak belanda mencaplok beberapa daerah yang menjadi milik kesultanan aceh.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Panjang Masjid Manonjaya

Padahal kedua belah pihak telah membuat perjanjian di Siak pada tahun 1858, akibat pelanggaran isi perjanjian itu rakyat Aceh menggempur Belanda. Dalam beberapa literatur sejarah di katakan, perang ini merupakan salah satu perang termahal yang pernah di lakukan oleh Belanda, kerugian yang di derita cukup besar.

Cut Nyak Dhien merupakan salah satu panglima perang dalam perang Aceh, beliau merupakan panglima gagah berani dan tangguh. Namun perjuangannya harus berakhir ketika beliau di tangkap Belanda 6 november 1905, atas laporan panglima perangnya yaitu panglima Panglaor yang merasa kasihan melihat keadaan Cut Nyak Dhien waktu itu.

Keadaannya sangat menyedihkan, beliau sudah tidak dapat melihat. Syarat yang diajukan oleh panglima Panglaor ialah Belanda tidak boleh menganiaya dan mengasingkan beliau. Namun Belanda melanggarnya, dan 11 desember 1906 Cut Nyak Dhien di buang ke Sumedang bersama seorang panglima perang dan anak laki laki berumur 15 tahun bernama Teuku Nana.

Baca Juga: Menyelami Penyebaran Islam di Wilayah Pamijahan

Di Sumedang Cut Nyak Dhien di rawat oleh Kyai Haji Sanusi, di lanjutkan oleh Haji Husna sampai dengan Cut Nyak Dhien wafat 6 desember 1908. Ketika di rawat Cut Nyak Dhien sangat dekat dengan anak Haji Husna yaitu Siti Khodijah.

Halaman:

Editor: Yudhi Prasetyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inilah 8 Tips Liburan Hemat dan Terjangkau

Rabu, 28 Desember 2022 | 18:45 WIB

Gunung-gunung di Jawa Barat Yang Menarik Untuk Didaki

Selasa, 1 November 2022 | 10:30 WIB

Deretan Makanan Oleh-Oleh Cianjur, Wajib dicoba

Senin, 31 Oktober 2022 | 07:00 WIB
X