“Namun, dengan data dan fakta yang disampaikan Said Abdullah, sekat-sekat tipologi agama Jawa ala Clifford Geertz: abangan, santri, dan priyayi, dalam praktiknya sudah mulai memudar,” lanjutnya.
Pemilih, termasuk dari kalangan NU, disebut semakin rasional, independen, dan tidak mudah terikat pada satu kekuatan politik saja.
Dalam konteks Jawa Timur, Adi juga menyoroti istilah “hijau abangan” yang diangkat Said Abdullah sebagai simbol pertemuan antara basis Islam dan nasionalis.
Konsep ini dinilai mencerminkan realitas politik baru di mana identitas keagamaan dan pilihan politik tidak lagi berjalan secara linier.
Ke depan, menurut Adi, menarik untuk melihat apakah ajakan tersebut benar-benar mampu menggeser preferensi politik warga Nahdliyin. Namun yang jelas, dinamika ini menegaskan bahwa peta politik Indonesia semakin cair dan sulit dipetakan secara konvensional.***