Harga Avtur Naik di Tengah Ketidakstabilan Global, Pengamat Sebut Indonesia Masih Beruntung

photo author
Durotul Hikmah, Bisnis Bandung
- Sabtu, 11 April 2026 | 19:00 WIB
Potret Pesawat di Bandara  (Tangkap layar YouTube CNN Indonesia )
Potret Pesawat di Bandara (Tangkap layar YouTube CNN Indonesia )

bisnisbandung.com - Kenaikan harga avtur berdampak signifikan terhadap industri penerbangan nasional, termasuk potensi lonjakan harga tiket pesawat.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai, meski tekanan biaya meningkat, Indonesia masih berada dalam posisi yang relatif lebih baik dibandingkan negara lain.

Menurut Alvin, bahan bakar merupakan komponen terbesar dalam biaya operasional maskapai, dengan porsi mencapai 30 hingga 40 persen dari total biaya. Karena itu, kenaikan harga avtur secara langsung memengaruhi biaya operasional penerbangan.

Ia menjelaskan, kenaikan harga avtur di dalam negeri tercatat mencapai sekitar 72,5 persen. Meski tergolong tinggi, kondisi ini dinilai masih lebih terkendali karena sebagian besar pasokan avtur diproduksi di dalam negeri.

Baca Juga: Motor Listrik untuk Kepala SPPG? Pengamat Tak habis Pikir Masalah Program MBG terus Bermunculan

“Nah, kenaikan harga avtur ini tentunya berdampak juga pada kenaikan biaya operasi penerbangan. Di Indonesia kita masih agak beruntung, saya menggarisbawahi agak beruntung, karena kenaikan harga avtur dalam negeri ini hanya 72,5%,” jelasnya dikutip dari YouTube CNN Indonesia.

Jika bergantung pada impor, kenaikan harga diperkirakan bisa lebih besar sekaligus berpotensi memicu kelangkaan.

Dampak dari lonjakan harga avtur tersebut membuat biaya operasional maskapai domestik meningkat hingga mendekati 30 persen.

Kenaikan ini tidak hanya dipicu oleh bahan bakar, tetapi juga dipengaruhi faktor lain seperti meningkatnya biaya asuransi serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Baca Juga: Geram Pengusaha Nakal, Prabowo Singgung Ada Upaya Membiayai Gerakan dari Uang Curian

Nilai tukar rupiah yang melemah juga memperparah beban maskapai, mengingat banyak komponen operasional penerbangan masih bergantung pada mata uang asing. Kondisi ini semakin menekan struktur biaya di tengah situasi global yang belum stabil.

Sebagai respons, pemerintah telah menaikkan komponen fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar pada tiket pesawat.

Kenaikan tersebut membuat total tambahan biaya menjadi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, sehingga berdampak langsung pada harga tiket yang dibayar penumpang.

Baca Juga: Netanyahu Kesal Spanyol Kerap Lontarkan Kritik Terhadap Langkah Israel

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Durotul Hikmah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X