Nikel Melimpah, Indonesia Berpotensi Menguasai Industry Baterai Global Seiring Tren Kendaraan Listrik Dunia

- Sabtu, 7 Mei 2022 | 07:30 WIB
Indonesia adalah salah satu negara penghasil Nikel terbesar di dunia, dan dapat dikatakan 37,04% Nikel dunia berada di Indonesia.  (Pixabay)
Indonesia adalah salah satu negara penghasil Nikel terbesar di dunia, dan dapat dikatakan 37,04% Nikel dunia berada di Indonesia. (Pixabay)

Bisnis Bandung - Pengamat Perdagangan Internasional/Dosen Perdagangan Internasional Universitas Widyatama, Dwi Fauziansyah Moenardy S.IP,. M.I.Pol mengemukakan, Indonesia adalah salah satu negara yang yang kaya akan berbagai jenis sumber daya alam salah satunya Nikel.

Nikel adalah logam keras berwarna putih keperakan dengan sedikit corak semburat keemasan.

Nikel adalah logam yang kuat, padat, dan memiliki ketahanan terhadap panas dan korosi.

Tak heran jika fungsi Nikel sangat berguna untuk pengembangan berbagai macam produk, seperti untuk bahan baku pembuatan kabel listrik, koin, hingga peralatan militer.

Dilansir dari Live Science, logam yang sangat berguna ini adalah nonor 28 dalam tabel periodik unsur, antara unsur kobalt dan tembaga.

Baca Juga: Sering Kritik Pemerintah Lewat Dakwahnya, Ibunda Khawatir Ustadz Felix Siauw Ditangkap Polisi

Nikel adalah logam penghantar listrik dan panas yang cukup baik dan merupakan salah satu dari empat unsur logam yang sangat penting, selain kobalt, besi, dan gadolinium.

Dwi Fauziansyah Moenardy S.IP,. M.I.Pol mengemukakan, sebagai logam transisi, Nikel memiliki elektron valensi tidak hanya satu lapisan, tetapi dalam dua lapisan, yang memungkinkan logam tersebut membentuk beberapa keadaan oksidasi yang berbeda.

"Inilah salah satu alasan mengapa Nikel termasuk ekspor Nikel Indonesia begitu penting"

Indonesia adalah salah satu negara penghasil Nikel terbesar di dunia, Menurut data dari United States Geological Survei (USGS) Amerika Serikat, produksi Nikel Indonesia mencapai angka 1 juta metrik ton pada tahun 2021 lalu, dan dapat dikatakan 37,04% Nikel dunia berada di Indonesia.

Selain Indonesia, Filipina berada pada peringkat kedua dengan produksi Nikel sebesar 370 metrik ton, posisi ketiga ditempati Rusia dengan jumlah produksi 250 ribu metrik ton dan posisi keempat ada New Caledonia, yang merupakan daerah bagian dari Prancis dan berhasil masuk ke daftar penghasil Nikel terbesar di dunia, tercatat produksi Nikel New Caledonia sebesar 190 metrik ton.

Baca Juga: Analisis Refly Harun, Presiden Jokowi Takut Kalah Pamor dengan Anies Baswedan

Nikel memegang posisi yang kuat dalam dunia industry. Banyak barang dapat terbuat dari Nikel.

Nikel memegang peranan yang sangat penting yang mendukung serta menstabilkan berbagai bahan industry lainnya.

Nikel biasanya dikombinasikan dengan logam lain untuk menghasilkan produk yang kuat dan lebih tahan lama.

Sekitar 65 persen produksi Nikel digunakan memproduksi besi tahan karat dan 20 persen lainnya Nikel digunakan untuk membuat baja dan paduan non-besi lainnya, termasuk untuk keperluan militer, industri penerbangan, dan industri lainnya.

Sedikitnya, 9 persen Nikel digunakan sebagai pelapis, serta 6 persen Nikel dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan koin, baterai, dan menyuplai bahan baku untuk keperluan industri elektronik.

Baca Juga: Refly Harun: Prabowo Temui Megawati, Bahas Duet Prabowo-Puan Maharani hingga Nasib Luhut Binsar Pandjaitan

Jika dilihat dari hasil industry yang dihasilkan Nikel maka ini menunjukan peranan yang sangat penting produksi nikel bagi industry global.

Saat ini salah satu tren industry yang sedang meningkat adalah kendaraan listrik. Karena adanya upaya dunia dalam mengurangi emisi karbon.

Dalam industry kendaraan listrik memerlukan tenaga baterai dan Nikel adalah bahan baku utama dalam produksi baterai.

Berbagai peralatan elektronik, termasuk untuk mobil listrik yang trennya kian menguat di skala global.

Baca Juga: Vietnam Diduga Sengaja Sulitkan Tim-Tim Lawan dengan Fasilitas Latihan yang Buruk

Melihat potensi yang sangat besar bagi masa depan industry Indonesia maka pada November 2021 Indonesia pernah mengeluarkan kebijakan pelarangan ekspor Nikel.

Larangan ini dikeluarkan karena Indonesia perlu meningkatkan pemanfaatan dalam negeri dan tidak lagi ekspor raw material tetapi diperuntukan untuk barang jadi yang dapat meningkatkan nilai barang tersebut.

Kebijakan ini perlu kita cermati dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tersebut.

Larangan ekspor merupakan kebijakan dengan berbagai tujuan. Dan yang menjadi tujuan pelarangan ekspor ini untuk mengembangkan industri agar dapat membuka kesempatan kerja baru di Indonesia.

Tentu kebijakan ini akan mendapat keuntungan dari aktivitas tersebut. Hal ini tentunya akan memberikan banyak manfaat untuk penduduk suatu negara.

Sehingga perlu dicermati dari larangan ekspor ini yang bisa juga disebut sebagai hambatan dalam perdagangan internasional karena berdampak pada rantai pasok bagi negara-negara yang mengimport Nikel dari Indonesia.

Tak mengherankan, ekspor Nikel Indonesia dalam bentuk bahan mentah yang dihentikan ini telah mengguncang negara-negara di dunia, terutama dari Uni Eropa.

Baca Juga: Shin Tae-yong Kecewa, Pihak Penyelenggara Dianggap Tidak Adil, Timnas U-23 Banyak Dirugikan

Kebijakan ini sangat strategis bagi Indonesia jika kita melihat kebutuhan pasar global yang tinggi akan Nkel.

Nilai ekspor Indonesia akan memiliki nilai tambah dan bernilai jual lebih tinggi.

Selain itu, penghentian ekspor bijih Nikel juga dengan tujuan agar Indonesia memiliki cadangan yang cukup untuk membangun industri baterai kendaraan listrik.

Dan dapat menguasai industry baterai global karena semakin meningkatnya tren kendaraan listrik dunia***

Editor: Yudhi Prasetyo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X