Tas Berbahan Alami nan Unik Ini Pemasarannya Sampai Ke Luar Pulau Jawa

- Selasa, 31 Mei 2022 | 12:56 WIB
Abah Gurday pengrajin tas kopek (Bisnisbandung.com / Kewoy Guntara)
Abah Gurday pengrajin tas kopek (Bisnisbandung.com / Kewoy Guntara)
 
Bisnis Bandung - Bagi pecinta dan penggemar barang barang seni seperti sudah pasti akan senang bila membeli atau mendapatkan barang yang sesuai dan diinginkan,apalagi arang tersebut terbuat dari bahan bahan alami tentunya akan memiliki nilai seni yang sangat tinggi bagi para penggemar dan penikmatnya,akan ada rasa bangga dan bahagia bila kita memilikinya.
 
Seperti Tas yang di buat dari ahan bahan alami seperti daun daun atau akar akar pohon,selain mempunyai nilai seni yang sangat tinggi dikalangan pecinta seni,bisa juga barang tersebut mempunyai nilai historis dikalangan pecinta dan penikmat seni nya.
 
Di Kabupaten Sumedang Jawa Barat tepatnya di Dusun Panyingkiran Desa Cikaramas Kecamatan Tanjungmedar,ada pembuat tas dengan bahan yang masih menggunakan bahan dari pepohonan dan dahan pohon,tas tersebut dinamakan atau disebut "Tas Kopek".
 
 
Tas ini dibuat menggunakan daun gebang atau sebagian masyarakat kita menyebutnya daun lontar bisa juga disebut daun palm besar,bahan utamanya,sebagai pelapisnya menggunakan daun  cangkuang atau pandan leweung,dan yang terakhir adalah kulit dari pohon waru.Dasar dari pembuatan tas berbahan alami dari daun daunan tersebut karena di rasa cukup mudah mendapatkan bahan bahannya meskipun sering kali keluar masuk hutan untuk mendapatkannya.
 
Abah Gurday nama pembuat tas kopek tersebut menceritakan pertama kalinya Ia membuat tas di awal tahun 2005 hinga sekarang,berawal dari pertemuannya dengan anak anak pengembala kerbau atau disebut "budak angon"di daerah Surian Sumedang yang menggenakan tas kepok tersebut,lalu Ia menghampiri anak anak tersebut dan mencoba melihat lihat bentuk tas tersebut karena dirasa unik,selanjutnya Ia menanyakan dimana lokasi atau tempat yang menjual tas tersebut,dan merekapun menjawab mereka membuat tas ini sambil mengembalakan kerbaunya.Dengan rasa penasaran Bah Gurday terus memperhatikan tas yang dibawa anak anak,karena ternyata tas tersebut dipakai anak anak sebagai alat untuk membawa perbekalan mereka seperti makan dan minum.
 
"awalnya saya melihat budak angon (penggembala)yang menggunakan tas ini,lalu saya samperin dan nanya tas naon eta jang ?(dalam bahasa sunda),mereka menjawab "tas kopek",tas kopek dalam artian obrolan orang sunda ialah "kop" (silahkan) "pek" (pake),mungkin itu awalnya tas ini dinamai "kopek",ujarnya.
 
"setelah diamati lalu saya mulai mencari cari bahan dan mencoba mempraktikannya dirumah,setelah beberapa kali mencoba akhirnya satu buah tas bisa saya selesaikan meskipun dengan hasil yang belum sempurna,ya minimal saya senang aja karena bisa membuat tas ini meskipun dengan sush payah,lama kelamaan karena terbiasa akhirnya say berhasil lagi membuat tas yang lebih bagus dan sempurna,dari situ tas tersebut sering saya pakai kemana mana dan mungkin itulah awal terjadinya orang orang tertarik dan ingin membeli,padahal awalnya saya belum ada niatan untuk menjual apalagi memasarkan"ujarnya.
 
Dari pertemuan Bah Gurday dengan budak angon itu,ada rasa penasaran terhadap tas yang dibawa budak angon tersebut,selain bentuknya yang unik minimalis juga bahannya itu alami,didapat dari alam juga alias dari pepohonan juga dahannya.Singkat cerita Bah Gurday mulai mencari bahan yang diperlukan hingga keluar masuk hutan di daerah surian sumedang,bahkan tidak jarang Bah Gurday menyebrang ke daerah subang dan Indramayu untuk mendapatkan bahan bahan tersebut.Setelah dirasa cukup bahan yang diperlukan barulah Ia mengolah bahan bahan tadi untuk kemudian di anyam dan di entuk menjadi sebuah tas.
 
 
Proses pembuatan tas ini tidak lama,bila dikerjakan secara fokus dalam satu hari Bah Gurday bisa menyelesaikan hingga 10 tas berbagai macam ukuran.Justru yang cukup lama dalam proses pembuatan tas ini adalah mendapatkan bahannya serta melapis tas nya,karena bahan sudah cukup banyak juga yang mencari  tetapi untuk keperluan lain,yang kedua proses melapis tas yang sudah jadi.Tas yang sudah jadi bukan dilapis dengan pernis atau bahan pelapis lainnya,namum Bah Gurday melapis tas ini masih menggunakan bahan alami yaitu daun cangkuang atau pandan leweung atau dikenal juga dengan nama danas sabrang.Sedangkan untuk tali selendangnya,Bah Gurday menggunakan daun kulit waru ataupun dari pelepah pisang.
 
"sebetulnya membuat tas ini hanya setengah jam paling lama,cuman diperhitungkan waktu dari mencari bahan dan memproses bahan agar menjadi satu buah tas itu yang lumayan lama,juga ketika finishing melapis tas nya saja,perlu ke hati hatian dan teliti karena bila di buru buru,hasilnya tidak akan maksimal"terannya.
 
Tas yang di buat Bah Gurday ini peminatnya juga sangat banyak,dari para pemesannya juga banyak yang dari luar daerah,selain di daerah Jawa Barat,ada juga pesanan dari Yogya,Surakarta,Palembang dan Bali.Ukuran tas yang dibuat Bah Gurday tergantung dari keinginan pemesan dan harganyapun bervariasi,dari yang kecil dianderol dengan harga 70 ribu hingga yang terbesar bisa mencapai 250 ribu tergantung dari tingkat kesulitan pembuatannya.
 
Dalam hal pemasaran Bah Gurday tidak mempunyai tempat jualan atau toko seperti pedagang barang pada umumnya,namun dengan cara unik yang Ia dan Istrinya lakukan,dengan memakai tas tersebut ke acara acara besar maupun kecil bahkan ke undangan pernikahan atau hanya sekedar melancong ke rumah saudara dan teman banyak yang tertarik dengan keunikan tas yang mereka kenakan.
 
 
"saya gak punya jongko maupun toko untuk jualan,yang saya punya adalah kemauan ketika memakai tas ini,kenapa...karena ketika saya memakai tas ini banyak orang yang tertarik,ya pingin belilah ada yang pesen model lainlah dan macem macem pokonya'jadi pemasaran tas ini dari mulut ke mulut ataupun melalui pesanan saja,dan saya tidak membuat secara rutin,karena saya juga masih mempunyai pekerjaan lain,kalo inimah sampingan dan juga hoby"ujarnya.
 
Bah Gurday sebenarnya tidak terlalu banyak berharap dalam usaha membuat tas ini'karena di jaman modern seperti sekarang ini Indonesia khususnya dibanjiri banyak barang barang mewah baik import maupun produk lokalnya,hanya saja Bah Gurday mempunyai harapan khususnya untuk para generasi penerus utamanya kaum muda,agar jangan sampai melupakan seni dan budaya lokal yang sudah ada sejak jaman dulu,peninggalan leluhur kita,karena bagaimanapun seni dan budaya peninggalan leluhur kita bila tidak kita jaga dan di lestarikan tentunya akan hancur dan mungkin hilang karena adanya peradaban modern seperti sekarang ini.*** 

Editor: Us Tiarsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keseruan DCDC Ngabuburit Di Uninus

Jumat, 29 April 2022 | 13:10 WIB
X