Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, secara terbuka menyambut positif kemitraan ini.
Ia menilai MDCP sebagai langkah strategis yang tidak hanya memperkuat pertahanan nasional, tetapi juga memperkuat diplomasi militer Indonesia di panggung internasional.
“Ini langkah untuk memperkuat pertahanan kita sembari memantapkan diplomasi militer,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan pada 14 April 2026.
Dave juga menegaskan bahwa kerja sama ini penting agar TNI mampu beradaptasi dengan perubahan geopolitik global serta meningkatkan kapasitas teknologi pertahanan yang semakin maju.
Di tengah tarik menarik persepsi antara kepentingan nasional dan kecurigaan publik, satu hal menjadi jelas: kemitraan pertahanan Indonesia–AS
bukan sekadar kerja sama biasa, melainkan langkah besar yang bisa menentukan arah posisi Indonesia di tengah pusaran konflik dan kepentingan global.
Baca Juga: Polemik Pernyataan Jusuf Kalla Memanas, AALAI Desak Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Pertanyaannya kini, apakah ini strategi cerdas menjaga kedaulatan atau justru awal dari ketergantungan baru yang selama ini dikhawatirkan?***
Artikel Terkait
Trump Klaim Iran Melemah, AS Mulai Bersihkan Selat Hormuz dari Ranjau Laut
Negosiasi AS-Iran Berlangsung Lama di Pakistan, Sinyal Kesepakatan Awal Mulai Terlihat
Pengamat Soroti Soal Isu Akses Pesawat Militer AS, Kemenhan Klarifikasi dan Potensi Posisi Indonesia
Polemik Pernyataan Jusuf Kalla Memanas, AALAI Desak Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Pertemuan Prabowo Subianto dan Vladimir Putin di Moskow Bahas Kerja Sama Ekonomi hingga Energi
Manuver Politik Prabowo, Di Balik Pertemuan dengan Putin Saat Menhan Bertemu Pejabat Militer AS