BI Longgarkan Kebijakan, Saatnya Berburu Properti

- Rabu, 3 Oktober 2018 | 09:40 WIB
bi-longgarkan-kebijakan-saatnya-berburu-properti-ZtxdeV75HB
bi-longgarkan-kebijakan-saatnya-berburu-properti-ZtxdeV75HB

SEJAK 1 Agustus 2018, Bank Indonesia (BI) melonggarkan kebijakan Loan to Value atau Financing to Value (LTV atau FTV), sehingga masyarakat lebih mudah memiliki tempat tinggal dengan menggunakan kredit atau pembiayaan dari perbankan.

Tujuan akhirnya adalah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan terhadap sektor properti khususnya tempat tinggal. Kebijakan LTV atau FTV merupakan kebijakan yang mengatur besarnya nilai kredit atau pembiayaan yang diberikan bank bila dibandingkan dengan nilai agunan berupa properti. Kredit merupakan produk dari bank konvensional, sedangkan pembiayaan adalah produk dari bank syariah. Sebagai contoh, bila rasio LTV atau FTV ditetapkan sebesar 80% dan kita ingin mengajukan kredit atau pembiayaan untuk membeli rumah (sebagai agunan) seharga Rp1 miliar, maka nilai maksimal kredit atau pembiayaan yang dapat diberikan bank adalah Rp800 juta.

Kebijakan LTV atau FTV pertama kali diterbitkan BI pada tahun 2012 untuk menahan laju pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang terlalu tinggi. Di pertengahan 2012, KPR tumbuh 45% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Permintaan terhadap rumah untuk tempat tinggal sangat tinggi sehingga menyebabkan harga rumah melonjak di atas harga wajar. Ada tiga bentuk pelonggaran kebijakan LTV atau FTV yang dilakukan BI. Pertama, penentuan rasio LTV atau FTV kredit atau pembiayaan fasilitas pertama untuk seluruh tipe ukuran properti diserahkan kepada masing-masing bank.

Sebelumnya rasio LTV atau FTV untuk kredit atau pembiayaan fasilitas pertama beberapa tipe ukuran properti dipatok BI sebesar 85% sampai 90%. Pelonggaran kedua terkait mekanisme inden. Maksimal pemberian kredit atau pembiayaan ditentukan lima fasilitas tanpa melihat urutan. Sebelumnya mekanisme inden hanya di batasi maksimal dua fasilitas saja, itu pun untuk fasilitas urutan pertama dan kedua. Masih terkait dengan properti inden, pelonggaran ketiga berupa penyesuaian tahapan dan besaran pencairan kredit atau pembiayaan properti inden.

Salah satu contoh adalah maksimum pencairan tahap satu yang sebelumnya dipatok 40% dari plafon ketika fondasi selesai, dilonggarkan menjadi dapat dicairkan 30% dari plafon hanya dengan melakukan tanda tangan perjanjian kredit atau pembiayaan properti. Pelonggaran juga terjadi di tahap-tahap pencairan berikutnya hingga selesai.

Masyarakat Lebih Mudah Menjangkau

Setelah kebijakan dilonggarkan, bank dapat memberikan porsi kredit atau pembiayaan terhadap total agunan yang lebih besar dari yang sebelumnya dipatok BI khususnya kredit atau pembiayaan fasilitas pertama. Semakin besar rasio LTV, semakin besar porsi kredit atau pembiayaan yang diberikan bank dan semakin kecil uang muka (down payment ) yang perlu disiapkan nasabah ketika membeli rumah. Ketidakpastian kondisi ekonomi global saat ini memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.

Perang dagang AS - Tiongkok hingga menurunnya harga komoditas cukup berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Namun ekonomi Indonesia masih tumbuh meningkat hingga triwulan II 2018 didorong oleh konsumsi rumah tangga. Konsumsi perumahan menyumbang 13,5% menunjukkan daya beli properti yang cukup terjaga. Di sisi lain, kenaikan harga properti masih cenderung terbatas dan menjadi peluang tersendiri. Rasio LTV atau FTV yang dilonggarkan menjadi saat yang tepat untuk berburu properti demi menangkap peluang tersebut. Namun ketika permintaan terhadap kredit atau pembiayaan properti menjadi tinggi, perbankan akan menghadapi risiko kredit yang meningkat.

BI harus terus memantau kesehatan perbankan karena aset perbankan mendominasi hingga 74% dari total aset seluruh lembaga keuangan. Manfaat pelonggaran LTV atau FTV juga dirasakan oleh para pengembang properti (developer). Developer dapat lebih cepat menikmati pencairan kredit atau pembiayaan dari bank ketika menjual properti inden. Mereka tidak perlu menyiapkan modal sendiri sebesar yang sebelumnya, sebagai contoh untuk pencairan tahap pertama, pencairan kredit atau pembiayaan bank dapat dicairkan hanya dengan melakukan tanda tangan perjanjian kredit atau pembiayaan properti saja.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Polri: Jalur Selatan Bisa Jadi Alternatif Jalur Mudik

Jumat, 20 Januari 2023 | 14:15 WIB

Hadiah Terbaik untuk Hari Ibu, No 3 Paling Manjur

Rabu, 21 Desember 2022 | 20:50 WIB

Siapakah Penghuni Pertama Ibu Kota Nusantara (IKN)?

Jumat, 2 Desember 2022 | 21:00 WIB
X