Bisnisbandung.com - Langkah mengejutkan terjadi ketika Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin,
secara resmi bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, di Pentagon, dalam momen yang dinilai banyak pihak penuh simbol geopolitik.
Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan besar berupa pembentukan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP)
antara Indonesia dan Amerika Serikat sebuah kemitraan pertahanan strategis yang disebut sebut akan mengubah peta kekuatan di kawasan Indo-Pasifik.
Namun, timing dari kerja sama ini justru memicu kontroversi: di saat Amerika Serikat disebut-sebut sedang mengalami kerenggangan hubungan dengan sejumlah sekutu tradisionalnya di Uni Eropa dan bagian dunia lain,
Indonesia justru tampil sebagai mitra yang semakin dekat, bahkan dianggap oleh sebagian kalangan sebagai “merapat dan melekat” di tengah kondisi global yang tidak stabil.
Baca Juga: Manuver Politik Prabowo, Di Balik Pertemuan dengan Putin Saat Menhan Bertemu Pejabat Militer AS
Narasi yang berkembang di ruang publik pun mulai liar. Isu lama soal “antek asing” kembali diangkat,
memicu perdebatan panas: apakah kerja sama ini murni strategi pertahanan atau justru tanda meningkatnya pengaruh asing dalam kebijakan militer Indonesia?
Apalagi, dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai agenda sensitif seperti modernisasi militer, pengembangan teknologi pertahanan canggih,
hingga latihan pasukan khusus bersama yang bagi sebagian pihak dianggap berpotensi membuka celah ketergantungan baru.
Di sisi lain, pemerintah melihat ini sebagai peluang emas untuk mempercepat peningkatan kapasitas Tentara Nasional Indonesia agar mampu bersaing dalam dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Menariknya, di tengah polemik tersebut, dukungan justru datang dari parlemen.
Baca Juga: Kuasa Hukum Korban Ungkap Potensi Kasus Pelecehan Seksual di FH UI Dilaporkan ke Polisi