Kapolri : Ikan Busuk Mulai Dari Kepala Prilaku Pemimpin Yang Baik, Jadi Contoh Insan Yang Dipimpinnya

- Jumat, 29 Oktober 2021 | 09:35 WIB
cegah-lonjakan-covid-19-saat-libur-nataru-kapolri-tak-boleh-abai-dan-jaga-prokes-yxQPvtiKHH
cegah-lonjakan-covid-19-saat-libur-nataru-kapolri-tak-boleh-abai-dan-jaga-prokes-yxQPvtiKHH

BISNIS BANDUNG - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan sebuah pepatah  , ikan busuk mulai dari kepala, kalau pimpinannya bermasalah maka bawahannya akan bermasalah juga.

 Hal itu diungkapkan Kapolri , terkait makin banyaknya oknum polisi yang melanggar kedisiplinan dan kode etik belakangan ini membuat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo “bersuara keras”.

Dikemukakan Kapolri , pihaknya akan  meminta seluruh jajaran di Korps Bhayangkara untuk melakukan koreksi secara menyeluruh. Juga mengenai kepimpinan di institusi kepolisian, baik itu di tingkat Polres maupun Polda.

Ia menyinggung peristiwa Kapolres Nunukan Syaiful Anwar yang menganiaya anak buahnya, Brigadir Sony Limbong. "Ada pepatah, ikan busuk mulai dari kepala, kalau pimpinannya bermasalah maka bawahannya akan bermasalah juga,” ujar Jeneral Listyo Sigit.

Mantan Kapolda Banten ini meminta pemimpin menjadi teladan bagi bawahannya.Jika pemimpin bersikap baik, maka perilakunya akan menjadi contoh bagi insan bhayangkara yang dipimpinnya. Dirinya tidak akan segan menindak tegas oknum lembaga kepolisian yang menyalahi kode etik dan dan tidak mampu menjadi teladan bagi bawahannya.

Akhir-akhir ini Kepolisian Republik Indonesia (Polri) jadi sorotan publik. Protes masyarakat terhadap kinerja dan sikap polri meningkat. Padahal hadirnya polisi diharapkan menjadi pelindung dan memberikan rasa aman mengingat jumlah polisi yang terus bertambah setiap tahun. Menurut mantan  Kapolri Jenderal Tito Karnavian  bahwa Indonesia memiliki 430.000  personel polisi. Jumlah personel terbanyak nomor dua di dunia setelah China.  Menurut laporan KontraS, sebanyak 651 tindak kekerasan yang dilakukan Polri sejak Juni 2020 hingga Mei 2021.

Penembakan merupakan tindak kekerasan yang paling banyak dilakukan polisi. Tercatat ada 390 kasus penembakan oleh personel Polri atau 57,9 % dari total tindak kekerasan dalam setahun terakhir. Penembakan tersebut setidaknya merenggut nyawa 13 orang dan 98 orang lainnya luka-luka.Selain itu, terdapat 75 kasus penangkapan sewenang-wenang dan 66 kasus penganiayaan oleh aparat sejak Juni 2020 hingga Mei 2021. Kemudian, terdapat 58 kasus kekerasan oleh Polri berupa pembubaran paksa. Ada 36 kasus penyiksaan, 24 kasus intimidasi, dan 12 kasus salah tangkap dalam setahun terakhir. Sebanyak 399 kasus kekerasan tersebut dilakukan di tingkat kepolisian resor (Polres). Sebanyak 135 kasus kekerasan berada di tingkat kepolisian daerah (Polda). Sementara kepolisian sektor (Polsek) di posisi terakhir dengan 117 kasus kekerasan.  Belum lagi kita juga kerap menemukan kasus tindakan tak manusiawi, kejahatan seksual, pembunuhan, dan penculikan yang dilakukan oleh polisi.

Bertambahnya personel kepolisian diingatkan Ombudsman RI , bahwa gemuknya jumlah polisi membahayakan institusi polisi itu sendiri. “Ini bisa membuat seluruh anggaran Polri yang mencapai 105 triliun itu habis buat gaji, udah mulai gitu sekarang, anggaran Polri 70 % habis untuk gaji. Sisanya, 30 % anggaran untuk kegiatan yang bersifat modal, seperti membangun markas dan operasional. Bahaya nih kalau jumlah personel enggak ditahan," kata anggota Ombudsman Adrianus Meliala , beberapa waktu lalu.  Pengamat Kebijakan Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menyebutkan, banyaknya jabatan dan rumitnya birokrasi di Polri menyebabkan pelayanan publik tidak berjalan optimal.

"Kebutuhan akan polisi cukup tinggi , cuma yang ada saat ini tidak merata. Butuh reformasi dan evaluasi, pertama dari kulturnya. yang menyangkut integritas, kompetens dan moralitas,” penyimpangan," ujar Trubus seraya menambahkan, saat ini Polri dihadapkan oleh dinamika masyarakat yang berubah. Masyarakat kini lebih kritis dan berekspektasi tinggi dengan peran polisi. Namun kultur kelembagaan Polri tidak ada perubahan, masih terkesan kaku atau feodal.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Polri: Jalur Selatan Bisa Jadi Alternatif Jalur Mudik

Jumat, 20 Januari 2023 | 14:15 WIB

Hadiah Terbaik untuk Hari Ibu, No 3 Paling Manjur

Rabu, 21 Desember 2022 | 20:50 WIB

Siapakah Penghuni Pertama Ibu Kota Nusantara (IKN)?

Jumat, 2 Desember 2022 | 21:00 WIB
X