BLT Sektor Pertanian Perkuat Mental Petani

- Senin, 14 September 2020 | 15:00 WIB
BLT Sektor Pertanian Perkuat Mental Petani
BLT Sektor Pertanian Perkuat Mental Petani

Dengan berbasis data di tingkat RT, data tersebut akan diverifikasi pada musyawarah desa khusus. Pendataan mereka mengacu pada data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). "Bentuk penyimpangan atau tidak tepat sasaran yang bisa saja terjadi harus benar-benar dihindari dengan verifikasi di berbagai jenjang, dan ini merupakan kunci keberhasilan  penyaluran BLT. Semua temuan di lapangan yang mengarah pada bentuk penyimpangan harus dihimpun untuk segera dibawa dan diverifikasi lebih lanjut pada musyawarah desa khusus"

Prof.Ir.Maman Haeruman K. MSc., PhD mengimbuhkan, agar BLT tidak disalahgunakan oleh petani, sistem audit atau bentuk pelaporan peruntukkan BLT di kalangan petani perlu dilakukan oleh lembaga milik petani itu sendiri, yaitu kelompok tani. Karena BLT dalam bentuk sarana produksi fisik, kelompok tani bisa memonitor di lapangan.

Petani yang berhak memperoleh BLT adalah mereka yang tergolong petani gurem terkait dengan lahan garapannya  yang sempit yang jumlahnya cukup besar. Sempitnya lahan garapan petani seiring dengan pertambahan penduduknya. Dengan sistem waris tanpa batas, lahan yang sudah sempit itupun harus dibagi di kalangan ahli warisnya dan ini merupakan masalah internal di kalangan petani itu sendiri.

Menyempitnya lahan akan diikuti dengan in-efficiency (tidak efisien) terkait luasannya. Petani yang diwarisi lahan sempit ini menyadari, diusahakan juga "kateuteuari" (Sd), ujung-ujungnya lahan itu dijual. Menyempitnya lahan pertanian bisa diakibatkan pula oleh masalah sosial lain, yaitu kawin-cerai. Perceraian yang diikuti oleh pembagian gona-gini berakibat pada lahan pertanian yang harus dibagi sehingga menyempit. Jumlah petani yang berhak sebagai penerima BLT, dari berbagai informasi berjumlah 2,44 juta.(E-018)***

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X